Intoleransi Agama di Indonesia
Intoleransi
Agama di Indonesia
Sejak kemerdekaan Indonesia
tidak pernah terlepas dari sebuah konflik baik dalam sisi social, ekonomi, dan
agama. Dengan kemajemukan yang ada serta tidak semua masyarakatnya dapat
merasakan bimbingan yang tepat dari lingkungannya, masih banyak orang-orang
yang merasa bahwa keunikan yang mereka miliki adalah yang terbaik dan bahkan
menimbulkan kesalah-pahaman. Salah satunya konflik agama di Indonesia banyak
sudah rakyat yang menajdi korban atas konflik ini baik korban atas fisik maupun
psikologisnya. Padahal sudah sepatutnya kita sebagai rakyat Indonesia yang baik
dan benar serta berdasarkan Pancasila sila pertama dimana kita mempercayai
bahwa Tuhan Maha Esa sehingga biarpun kita memeluk berbagai macam agama dan
kepercayaan yang ada Tuhan yang kita tuju sama. Indonesia membebaskan
masyarakatnya untuk memeluk agama apapun berdasarkan keinginannya.
Sayangnya konflik akan
intoleransi antar umat beragama masih banyak bahkan di lingkungan kita sendiri
misalnya secara umum dirasakan oleh umat muslim saat bulan Ramadhan tiba dimana
mereka harus berpuasa dengan menahan makan dan minum selama sehari penuh dan
warung makan yang ada tetap buka dan beberapa tidak mengenakan gorden/penutup
seperti yang disarankan pejabat daerah. Dan kelompok organisasi yang
mengatasnamakan agama juga LSM yang ada menyayangkan bagaimana sikap pejabat
daerah atau petinggi Negara yang bertugas masih selalu kecolongan dalam
menangani kasus tersebut biarpun jumlahnya berkurang namun, tidak pernah
benar-benar sesuai dengan yang diharapkan.
Intoleransi merupakan
keadaan dimana kelompok beragama satu dengan lainnya tidak saling menghormati
atau menghargai mengenai kelompok beragama atau kepercayaan lainnya. Penyebab
yang umum biasanya diawali dengan sikap diskriminatif terhadap lingkungan juga
bisa karena kurangnya pendidikan mengenai toleransi sejak usia dini. Semakin
modern suatu Negara akan membuat toleransi yang ada juga semakin mudar dimana
mereka akan bersikap lebih individualism dan tidak memperdulikan tentang
keadaan sekitar. Apalagi mengingat banyaknya argument-argumen melenceng bahwa
dalam satu agama kita tidak boleh mengucapkan atau ikut memeriahkan suatu
perayaan agama lain tanpa dasar yang jelas. Dari sikap intoleransi ini tidak
hanya menyebabkan adu mulut antar individu namun juga menyulut amarah suatu
kelompok agama tersebut. Dengan menyulutnya amarah tersebut akan menimbulkan
konflik antar umat beragama atau peneroran didalam rumah ibadah dan atau
pembunuhan.
Maka dari itu kita sebagai
masyarakat Indonesia dimana dikenal dengan toleransinya dengan berbagai lawan
bicara di seluruh dunia, kita harus bisa mulai menanamkan sikap toleransi sejak
usia dini. Bukan berarti kita benar-benar mengikuti setiap perayaan agama yang
ada tetapi setidaknya kita ikut memberikan selamat dan juga diam saja hingga
perayaan yang dilakukan selesai.
Kekerasan yang terjadi di
Indonesia dengan mengatasnamakan agama tidak pernah benar-benar berhenti pada
analisa dan tindakan yang ada dalam mencegahnya meluas. Salah satunya jika
dilihat melaui kacamata sospol, ekonomi dan psikologi kekerasan yang terjadi
dengan mengatasnamakan agama ini berasal dari segi aktor ataupun kelompok dalam
beberapa kelompok agama di Indonesia. Mereka melakukan secara sukarela maupun
dorongan dari lingkungan sekitar, bahkan banyak yang terjadi demi pengalihan
isu yang sedang berkembang di Indonesia yang menimbulkan banyak perdebatan.
Terdapat pula alasan atas dalil yang mereka yakini biarpun banyak tokoh agama
yang mendefinisikan suatu dalil tersebut berbeda tetapi tetap diperbolehkan
dipercayai, banyak dari mereka yang menentang dalil tokoh agam lain biarpun
mereka sama-sama menganut agama yang sama dan searah.
Kaum milenial saat ini
berperan cukup penting sebagai penggerak di masa depan sebagai bangsa yang
ingin maju. Para pemuda ini sendiri tidak dapat ditempatkan sebagai pribadi
yang memiliki pikiran buruk dan akan menyesatkan. Biarpun pengalaman yang kita
miliki tidak sebanyak para kaum tua mengingat umur kita yang masih sekitar
15-35 tahun tetapi pemikiran yang kita hasilkan biasanya lebih realistis dengan
keadaan saat ini dimana kita menyaksikan dan merasakan langsung dunia yang baru
dan para kaum tua akan memiliki pemikiran bahwa kaum muda mereka lebih baik.
Serta pengetahuan atas pendidikan yang kita miliki masih fresh dan kita masih
dapat menggunakannya sebagai landasan atau dasar atas pemikiran yang kita buat.
Untuk menambah pengetahuan dan pendidikan yang ada kita harus terus diajarkan
dengan pendidikan realitas atau mempelajari bagaimana kenyataan yang berjalan
tidak selalu sesuai dengan rencana yang kita perkirakan. Juga perlu diajarkan mengenai
pemahaman kondisi sospos, ekonomi dan historis sehingga memiliki gambaran yang
jelas mengenai suatu fenomena yang terjadi di Negara. Dengan rasa ingin tahu
dan rasa keras kepala yang cukup besar biasanya para pemuda akan sulit untuk
diarahkan ke suatu hal karena kita memiliki kreatifitas dan imajinasi yang
penuh untuk berekspresi dalam membangun masa depannya.
Di masa yang modern ini kaum
milenial sangat aktif di dunia maya atau hampir seluruh aktifitasnya diisi
dengan menggunakan social media yang ada. Mereka akan lebih dulu mengetahui
fenomena yang terjadi dan perdebatan yang ada di dalam kolom komentar berita
tersebut.
Konflik
Intoleransi Beragama Di Indonesia
Beragamnya kepercayaan dan
agama yang ada di Indonesia. Fakta tersebut membuat eksistensi NKRI terancam
apabila tidak segara tertangani dengan benar. Salah satu konflik yang sering
terjadi adalah penolakan pembangunan tempat ibadah di daerah tertentu. GKI
YASMIN BOGOR salah satunya dimana mereka belum dapat merasakan beribadah dengan
layak di gereja kebanggaan mereka sudah selama tujuh tahun.[1] Dengan berbagai macam aksi
penuntutan yang diperjuangkan mereka belum bisa mendapatkan hasilnya. Gereja
yang mereka bangun saat 2006 dan rencana mereka untuk dapat beribadah dengan
tenang gugur setelah gereja tersebut disegel selama empat tahun dengan tuduhan
bahwa pembangunannya menyalahi aturan. Hal tersebut membuat mereka kehilangan
banyak jemaat karena usia lanjut para orang tua yang membuat mereka tidak
sanggup beribadah dibawah teriknya panas matahari, salah satu jemaatnya pun
mengakui bahwa aksi menuntut hak yang ada sungguhlah melelahkan. Tidak hanya
kaum kristem beberapa umat ahmadiyah di Sukabumi[2] dan penanut Hindu di
Bekasi[3] juga merasakan hal yang
sama sebagai minoritas. Sikap yang diterimanya tidak hanya merugikan kaum umat
agamnya tetapi juga lingkungannya dimana mereka menjadi enggan untuk berkenalan
dengan umat agama lain karena mereka merasa tidak cukup dihargai oleh sekitar.
Jika dilihat dari Lembaga Survei Indonesia atau LSI intoleransi yang ada
semakin buruk dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2016-2017. Beberapa umat
beragama yang masih memiliki pemikiran tertutup atau close minded menyimpulkan bahwa kaum minoritas di Indoneisa haru
menuruti kemauan kaum Mayoritas yang ada.
https://www.researchgate.net/publication/330483165_Intoleransi
Komentar
Posting Komentar